Mesir dan Peradaban Islam (Bag.3) - Studi Informasi Alam Islami
Terbaru :
Home » , » Mesir dan Peradaban Islam (Bag.3)

Mesir dan Peradaban Islam (Bag.3)

Written By Redaksi Sinai on Jumat, 09 November 2012 | 09.33


Mesir Dari Segi Geografis

A.   Wilayah dan Batas Negara

Republik Arab Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir. Merupakan sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Mesir juga digolongkan negara maju di Afrika. Selain itu, Mesir Negara pertama di dunia yang mengakui Kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Dengan luas wilayah sekitar 997.739 km² Mesir mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.

Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²). Sebagian besar daratan merupakan bagian dari gurun Sahara yang jarang dihuni.Mayoritas penduduk negara Mesir adalah Islam.

B.   Kekayaan Alam

Kekayaan alam yang dimiliki Mesir tidak jauh berbeda dengan negara-negara timur tengah lainnya. Yaitu seperti minyak bumi, gas alam dan lain sebagainya. Mesir dengan pertaniannya yang cukup luas, menjadi pemasok kapas terbesar dunia dengang urutan nomer enam. Selain itu, Mesir mendapatkan bantuan financial dari beberapa kekayaan alam lainnya, seperti bijih besi, fosfat, mangan, batu kapur, gipsum, talc, asbes, timah, seng.

Masyarakat dan Kebudayaan Negara

 A.   Etnik, Budaya dan Bahasa

Mesir merupakan negara-negeri lebih tepatnya- yang berumur sangat tua. Ia memiliki sejarah peradaban yang panjang nan unik. Karena negeri tersebut dikuasai oleh bermacam-macam watak manusia. Khususnya zaman Fir’aun yang meninggalkan peninggalan-peninggalan yang cukup berharga.

Setiap yang berkuasa pun seperti mereka. Selain mengeksplorasi dan memanfaatkan Mesir, juga memberikan Mesir corak-corak yang begitu beranega ragam. Sehigga bukan yang aneh, ketika kita melewati bangunan yang memiliki corak bangunan berbeda. Namun pada umumnya, pemandangan yang sering dilihat adalah bangunan-bangunan kotak yang dipisahkan banyak masjid atau mushala. Hal itu memudahkan masyarakat Mesir untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Karena mengapa? Salah satu kelompok yang pernah berkuasa adalah Islam (hingga sampai saat ini).

Islam sangat mempengaruhi kebudayaan Mesir secara menyeluruh. Ketika dilihat kembali sejarah yang terukir, Mesir sebelum datangnya Islam mengalami beberapa keadaan yang bias dinilai buruk. Namun setelah datangnya Islam, dengan sikap toleransi dan kasih sayangnya, masyarakat Mesir menerima Islam lahir bathin.

Sehingga, selain bangunan seperti di awal disebutkan, juga terlihat dari pemandangan-pemandangan sekitar. Banyak tulisan ayat-ayat Al-Quran yang dipampang di dinding-dinding gedung, pintu atau di plat pertokoan, alunan muratal al-Quran yang sering terdengar dibandingkan music atau lagu lainnya. Namun karena Inggris dan Prancis pernah menancapkan kukunya di kawasan ini, ada sedikit pengaruh terhadap kebudayaan Mesir.

Salah satu pengaruh yang nyata terlihat adalah dari segi bahasa. Menurut sebuah sumber, adanya bahasa Arab pasar, atau ‘ammiyah disebabkan tercampurnya bahasa asing dengan bahasa Arab. Selain itu disebabkan perkawinan Orang Mesir asli dengan selain mesir, seperti Sudan, Syiria, Arab dan lain sebagainya. Bahkan dengan negara benua Eropa.

Salah seorang wartawan Jerman pernah berkata, “Saya kagun dengan bangsa ini yang dapat hidup tenang di tengah-tengah keributan, kepadatan penduduk, ketidakaturan dan hal negative lainnya. Kalau bangsa lain menghadapi hal yang sama, maka akan sering terjadi kerusuhan dan kekerasan.” Penilaian yang cukup objektif dari orang asing yang mungkin hanya singgah. Kemungkinan besar, ia melihat keadaan dilihat dari sudut kota (kairo) dimana ia berada. Padahal, ketika mau berjalan lebih jauh lagi ke pedalaman (desa), maka akan menemukan ketenangan yang luar biasa.

Salah satu cara orang Mesir menghilangkan stress, yaitu dengan menikmati asap syisya (sejenis rokok) dan secangkir the panas. Maqahy, nama lain kafee untuk di kawasan Mesir terdapat hampir di sepanjang jalan. Mungkin jumlahnya tak kalah banyak dengan masjid sebagai tempat beribadah. Jika masjid untuk menenangkan rohani, maqahy adalah tempat yang pas untuk menenangkan diri (atau sekedar beristirahat).

Masih banyak cerita atau sejarah kebudayaan yang belum tersingkap. Adapun yang di atas, hanya sebagian kecil saja. Terakhir untuk pembahasan di sub bab ini mungkin dengan sebuah prosa, Mishr, bilaathuhaa masjidun wa jidaaruhaa hammamun. Bagi mereka yang sudah cukup lama tinggal disini mungkin bisa tahu budaya baik dan buruknya Mesir dilihat dari prosa singkat tersebut.

B. Ekonomi dan Mata Pencaharian Masyarakat Mesir

Ekonomi Mesir sangat tergantung pada pertanian, media, ekspor minyak bumi, ekspor gas alam dan pariwisata. Selain itu, terdapat pula lebih dari tiga juta orang Mesir yang bekerja di luar negeri, terutama di Arab Saudi, Teluk Persia dan Eropa. Sehingga hal tersebut bisa membantu untuk menambah kas Negara.

Penyelesaian Bendungan tinggi Aswan pada tahun 1970 dan resultan Danau Nasser telah menghasilkan tempat yang dihormati bagi Mesir. Keberadaan sungai Nil pun menjadi berkah bagi masyarakat Mesir. Keberadaannya dimafaatkan oleh ahli pertanian dan ekologi Mesir. Khususnya digunakan untuk mencocok tanam.

Sederhananya, karena Mesir mengalami penguasaan oleh kalangan yang berbeda-deda, maka hal tersebut sedikit mempengaruhi perkembangan ekonomi Mesir saat ini. Khususnya mata pencaharian masyarakat Mesir. Para penjajah dahulu, demi berjalannya segala apa yang mereka inginkan (eksploitasi), maka mereka membangun beberapa unit bangunan atau pabrik. Setelah perginya mereka, unit-unit tersebut dimanfaatkan masyarakat Mesir. Sehingga sampai saat ini di antara masyarakat Mesir ada yang bekerja di sektor-sektor perindustrian.

Jika dilihat dari sisi demografi, Mesir dikenal dengan kawasan yang paling luas dilewati oleh sungai Nil. Dengan panjang kurang lebih 6.650 km, sungai menjadi symbol kehidupan di Mesir. Semenjak Mesir kuno dulu, tepatnya ketika zaman Nabi Musa, sungai Nil memiliki peranan penting untuk penduduknya. Sehingga mereka pun memanfaatkan lahan subur yang ada di pesisiran sungai nil untuk bercocok tanam. Sehingga Mesir tercatat Negara pemasok kapas paling besar (urutan ke-6) di dunia.

C. Corak Keislaman Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Kata Islam di Mesir bukan hanya sekedar agama saja. Kata tersebut telah melekat erat di sanu bari setiap masyarakat Mesir. Sehingga dengan ridla akan Islam, setiap pekerjaan dan kelakuan mereka, tidak lepas dari nilai Islam. Hal ini pun bukan hanya terjadi sesama masyarakat Mesir atau pribumi. Tapi juga memberikan pengaruh positif kepada mereka yang bukan asli masyarakat Mesir, khususnya mahasiswa asing.

Pertama dari sisi bangunan yang ada di daerah sekitar. Lamanya Mesir di bawah pengawasan Umat Islam, menjadikan Mesir kaya dengan peradaban Islam, khususnya dalam segi bangunan. Hampir setiap rumah atau gedung dihias dengan indah bernuansa Islami. Ukirannya kaya dengan seni yang mahal. Ditambah dengan hiasan ukiran khath atau tulisan ayat Al-Quran. Disadari atau tidak, hal tersebut memberikan energy positif untuk mereka yang melihatnya. Dengan kata lain membuat ia berdzikir kepada Allah.

Belum lagi jumlah Masjid yang begitu banyak. Hampir di setiap perempatan atau jarak yang dekat, terdapat masjid. Sehingga ini memudahkan mereka yang ingin beribadah (shalat berjama’ah). Meski seperti itu, jangan kaget jika melihat orang yang shalat di trotoar jalan atau bahkan di depan toko mereka. Pemandangan ini wajar. Alias mereka meyakini bahwa tanah yang mereka injak (Mesir) adalah suci. Bahkan pengalaman orang yang shalat di atas mobil pun tidak jarang ditemui. Begitulah respon mereka terhadap hukum Islam. Sangat antusias.

Apalagi dengan adanya Masjid al-Azhar (Perguruan Tinggi Al-Azhar). Mesir menjadi rujukan utama dalam pengetahuan ilmu tentang Islam. Banyak para pencari ilmu dari penjuru dunia yang pergi ke negeri tersebut untuk menimba ilmu. Sehingga sejak berdirinya Universitas tersebut melahirkan ulama-ulama yang berkompeten dalam bidang keislaman. Apalagi dengan sikap toleransi Islam antara kelompok-kelompok Islam yang ada di negeri tersebut. Meski ada sedikit perbedaan, mereka saling menghormati. Tidak pernah ada pertentangan yang menimbulkan perkalahian atau hal buruk lainnya.

Bukti nyata yang bias dilihat pun adalah banyak macam buku yang beredar. Dengan kata lain, terkadang antara buku dengan buku lainnya bertentangan karena penulisnya berbeda kelompok atau pemikiran mereka yang saling bertentangan. Tapi sekali lagi, hal tersebut tidak membuat buku itu tidak terbit atau diperjual belikan di pasaran. Bahkan tersebar bebas di seluruh took buku. Berbeda dengan negara timur tengah yang lain, ada beberapa buku yang tidak boleh tersebar atau diterbitkan. Hal tersebut karena kurangnya sikap toleransi di antara mereka.

Hilmy Mubarok 
Disarikan dari berbagai sumber
Share this article :

Event

 
Office SINAI Mesir: ...Cairo
Copyright © 2011. Jhony Storage Redesign:Studi Informasi Alam Islami - All Rights Reserved
Redaksi SINAI Online
Email: sinaikita@gmail.com