Studi Informasi Alam Islami
Terbaru :
Diberdayakan oleh Blogger.

Posting Terbaru

Persamaan Kudeta Militer Mesir dan Myanmar

Written By Salman Arif on Kamis, 10 April 2014 | 05.45

Oleh: Zihkrul Syukri Z*
  Kudeta militer yang terjadi di Mesir baru-baru ini, tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah berlaku di Myanmar/Burma puluhan tahun silam. Pada tahun 1988, militer Myanmar mengambil alih kekuasaan lewat jalur kudeta. Tidak kurang dari 3000 pelajar, pejabat sipil dan rakyat biasa tewas saat itu saat mendemonstrasikan penolakannya atas kudeta militer. Pembantaian rakyat yang tidak sependapat ini, benar-benar di'copy-paste' oleh militer Mesir beberapa bulan lalu. 

Sejak saat itu, kekuasaan Myanmar dipegang penuh oleh militer. Hampir semua aspek, baik itu media, ekonomi dan industri dikekang dan dikendalikan penuh oleh militer lewat pimpinan-pimpinannya, sekali lagi mirip dengan kondisi Mesir saat ini. 

Kekuasaan pun turun temurun diberikan dari pimpinan yang satu ke pimpinan militer selanjutnya. Sejak saat itu Myamar dikenal sebagai salah satu negara dengan penduduk termiskin di dunia. 

Berbeda dengan di Mesir yang kudetanya di dukung oleh oknum kaum agamawan, kudeta di Myanmar ditentang keras oleh para biksu yang notabenenya adalah pimpinan spiritual Budha, agama mayoritas di Myanmar. 

Pada tahun 1990, sempat diadakan pemilu, yang ternyata dimenangkan oleh partai Aung San Suu Kyi dengan perolehan 80% suara, akan tetapi militer enggan menyerahkan kekuasaannya. Itu terus berlanjut hingga saat, dimana militer selalu 'ogah' menyerahkan kekuasaan meskipun pemilu telah dilakukan. Suu Kyi pun pernah dijadikan target pembunuhan oleh militer dan ternyata gagal. 

Saat ini kita tinggal menunggu, apakah masa depan Mesir akan lebih cerah dengan dipimpin oleh militer? Atau akan mengikuti jejak Myanmar (atau bahkan Korut) karena militernya tak pernah berhenti mengikuti nafsu berkuasa.

*Analis Dunia Islam di Pusat Studi Informasi Alam Islami

Zionis Israel Khianati Perjanjian Terkait Pembebasan Puluhan Tahanan Palestina

Written By Salman Arif on Jumat, 04 April 2014 | 05.23

SINAIOnline- Penjajah zionis Israel  akhirnya memutuskan untuk membatalkan pembebasan para tahanan Palestina gelombang keempat dan yang terakhir yang telah disepakati saat perundingan damai antara kedua belah pihak.

Tzipi Livni, Menteri Kehakiman Israel dan  penanggung jawab untuk urusan negosiasi mengatakan, "Israel tidak akan merilis nama-nama para tahanan gelombang empat sebagai bentuk penolakan terhadap langkah-langkah sepihak yang diambil oleh Palestina terkait keputusan untuk menghadap PBB dan bergabung dengan lembaga terkait," sebagaimana yang dilansir oleh surat kabar Yediot Aharonot milik Israel.

Hasil  perundingan damai tersebut berisi bahwa Israel akan membebaskan 104 orang warga Palestina yang ditahan sebelum perjanjian Oslo pada tahun 1993 dalam 4 tahap yang mana 3 gelombang pertama sudah dibebaskan.

Israel dari masa ke masa selalu menangkap banyak warga Palestina dengan klaim yang bervariasi. Gerakan Hamas telah memperingatkan Zionis Israel dan Amerika agar tidak melanggar perjanjian dan menegaskan akan tetap melanjutkan perlawanan.

Redaktur: Rendiyan S.
Sumber: islammemo

19 Ribu Warga Muslim di Afrika Tengah Akan Dievakuasi PBB

Written By Salman Arif on Rabu, 02 April 2014 | 03.10

SINAIOnline- PBB sedang berupaya untuk  mengevakuasi 19 ribu warga muslim Afrika Tengah setelah gagal melindungi mereka dari serangan milisi-milisi Kristen .

Fatoumata Lee John Kaba, juru bicara resmi  UNHCR mengatakan, "Hal yang tidak kita inginkan adalah ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat sedangkan mereka mengalami pembantaian. Kami sangat khawatir terhadap keberlangsungan hidup 19 ribu rakyat muslim di wilayah ini. UNHCR siap untuk membantu mengevakuasi mereka ke tempat-tempat yang lebih aman, baik di dalam maupun di luar negeri," sebagaimana yang dilansir Arabia Net.

Milisi Anti-Balaka Kristen terus menyerang sehingga menyebabkan meninggalnya ribuan warga muslim dan puluhan ribu lainnya mengungsi ke negara tetangga. Umat muslim di negara itu menduga bahwa pasukan militer Perancis bersekongkol dengan umat Kristen untuk membunuh dan mengusir mereka. Hal ini tampak ketika Perancis mengerahkan 2000 pasukannya tanpa mampu menghentikan pembantaian yang terjadi.

Pembantaian ini telah dimulai sejak tergulingnya presiden muslim pertama di Afrika Tengah, Michelle Ondotojia atas tekanan dari negara barat.

Redaktur: Rendiyan S.
Sumber: Islammemo

Koalisi Koptik Mesir Dukung Pencapresan Sisi

Written By Salman Arif on Minggu, 30 Maret 2014 | 14.55

SINAIOnline- Sabtu (29/3) kemarin, gerakan Koalisi Koptik Mesir dalam sebuah konferensi pers  menyatakan dukungan kepada mantan Menteri Pertahanan, Abdel Fattah al-Sisi untuk menjadi presiden.
 
Sejumlah tokoh masyarakat hadir sebagai tamu kehormatan, diantaranya adalah Prof.  Ahmad Korayema, artis Samir Eskandarani dan Emad Gad, wakil direktur Pusat Devisi Study Politik dan Strategi Ahram.

"(Sisi) adalah tokoh patriotik didukung oleh sebagian besar rakyat Mesir untuk mengambil alih Mesir dari fase gelap Ikhwan dan menyongsong harapan dan cahaya, serta untuk berdiri melawan kekuatan 'hitam' terorisme dan skema yang berusaha untuk menghancurkan negara Mesir, " ujar Fady Youssef, Koalisi Koptik Mesir.

Selama konferensi pers, Ahmad Korayema berbicara tentang kewarganegaraan dan Eskandarani ceritanya bersama penganut Koptik.

Redaktur: Muhammad Rizqi
Sumber: egypt independent


Sidang Mubarak Kembali Dilanjutkan Hari Ini

SINAIOnline- Hari ini (30/3), Pengadilan Pidana Kairo melanjutkan sidang presiden terguling, Hosni Mubarak. Tidak hanya dia, 2 putranya, Alaa dan Gamal Mubarak serta mantan menteri dalam negeri, Habib al-Adli bersama 6 ajudannya juga ikut disidang setelah kemaren ditunda akibat ketidakhadiran terdakwa dan cuaca buruk. Sidang tersebut bertempat di Akademi Kepolisian dan dipimpin langsung oleh Hakim Mahmoud Kamel Al-Rashidi. Mereka didakwa atas tuduhan penghasutan, membuat kesepakatan dan memberikan bantuan untuk membunuh demonstran damai selama revolusi 25 Januari, menciptakan kekacauan dalam negara tanpa ada pengawasan dari pihak keamanan.

Enam orang asisten Habib Adli yang ikut menjadi terdakwa adalah Mayor Jenderal Ahmed Ramzi (mantan Kepala Pasukan Keamanan Pusat), Mayor Jenderal Adly Fayed (mantan Kepala Keamanan Umum), Mayor Jenderal Hassan Abdel Rahman (mantan Kepala Intelijen Keamanan Negara), Mayor Jenderal Ismail Shaer (mantan Kepala Keamanan daerah Kairo), Mayor Jenderal Osama al-Marosy (mantan Kepala keamanan daerah Giza), dan Mayor Jenderal Omar Faramawy (mantan Kepala Keamanan daerah 6 Oktober).

Di gerbang 8 Akademi Kepolisian terlihat beberapa jurnalis dan pengacara terdakwa dengan keamanan yang ketat serta adanya sejumlah kecil pendukung terdakwa.

Redaktur: Rendiyan S.
Sumber: rassd

Rencana Jahat di Balik Vonis Hukuman Mati 529 Tahanan Mesir

Written By Salman Arif on Jumat, 28 Maret 2014 | 05.15

SINAIOnline- Kudeta militer di Mesir akan selalu memunculkan hal-hal yang bertentangan dengan pemahaman dan interpretasi. Oleh karena itu, vonis hukuman mati terhadap 529 warga Mesir penentang kudeta yang dijatuhkan oleh Pengadilan Minya Selatan bukanlah akhir dari tindakan-tindakan kejam dan kegilaan pihak kudeta dan juga bukan permulaan. Baik itu dari lembaga peradilan, institusi negara ataupun dari lembaga sosial masyarakat secara umum.

Sejak hari pertama kudeta, penulis telah memprediksi bahwa dalam menghadapi pihak kudeta dan menjalankan aksi-aksi untuk menumbangkannya akan dibutuhkan proses panjang, sulit dan berdarah. Apalagi kekuatan kudeta ini telah disokong oleh kepentingan-kepentingan luar negeri. Salah satunya adalah adanya kepentingan sebagian besar negara-negara Teluk dan yang lebih membahayakan adalah ikut sertanya kepentingan dunia barat, dimana mereka ingin mencegah berlanjutnya revolusi Arab yang diprediksi akan  "menggoyang" hegemoni mereka di dunia internasional.
 
Terlepas dari kenyataan bahwa vonis hukuman mati ini bukan salah satu dari kemungkinan di atas, namun jika kita kaitkan ke dalam daftar dosa-dosa yang dilakukan oleh otoritas kudeta, maka ini menunjukkan sinyal yang benar. Coba kita telisik ulang, sudah 9 bulan kudeta terjadi, mereka belum juga bisa menghabisi pegiat gerakan revolusi yang nyata dan benar. Dan jikalau kita rangkai kejadian-kejadian ini, akan didapatkan bahwa semuanya telah dirancang sejak awal. Atau dengan istilah lain, mereka ingin "membersihkan" Mesir dari jamaah Ikhwanul Muslimin secara khusus, dan menghilangkan politik Islam dan kelompok-kelompok jihad secara umum.
 
Artinya,  bisa dikatakan bahwa gerakan revolusioner yang selama ini dan masih berlanjut telah berhasil menghambat langkah pihak kudeta untuk mewujudkan stabilitas yang diinginkannya dan  menghalangi rencana-rencana mereka untuk menancapkan hegemoninya di Mesir. Meskipun gerakan revolusioner mendapatkan berbagai macam penindasan dan teror namun mereka tidak patah arang bahkan terus berjuang mempertahankan negara dari keinginan pihak kudeta untuk mengganti undang-undang Mesir. Oleh sebab itulah pihak kudeta merasa perlu meningkatkan dan membuat teror, intimidasi, pemerasan dan tekanan yang lebih untuk mengendalikan gerakan ini.

Pihak kudeta menginginkan agar vonis hukuman mati tersebut akan membuat jera pelaku revolusi dan bisa menciptakan opini publik bahwa jamaah Ikhwanul Muslimin lah yang bertanggung jawab terhadap pembantaian Rab'ah & Nahdhah. Hal itu disebabkan karena mereka tetap bersikeras menentang kudeta dan tidak mau menerima kenyataan yang terjadi. Tampak sekali bahwa pihak kudeta sangat menyadari kekuatan tersembunyi dari Ikhwanul Muslimin, posisi mereka di tengah masyarakat, dan semangat jihad yang telah mereka bangun selama 40 tahun lebih. Maka dari itu, langkah-langkah yang dirancang oleh pihak kudeta untuk menyeret IM ke dalam kekerasan bukan perencanaan yang tanpa dasar.

Rencana memberangus IM itu sangatlah biadab. Dalam konteks ini, tindakan pemerintahan kudeta tersebut adalah alat untuk merebut kekuasaan nasional. Apalagi, kita mendapati bahwa negara-negara Teluk, dengan segala dendam, permusuhan dan ketakutan mereka juga mengungkapkan keinginan untuk menghilangkan jamaah tersebut. Itu berarti, para penjajah negara ini dan dedengkot-dedengkotnya khawatir akan munculnya pergerakan-pergerakan besar yang berlandaskan semangat keislaman yang benar, yang akhirnya akan mengancam dominasi mereka serta membongkar semua struktur yang telah dibentuk selama ini. Hal itulah yang membuat para pemimpin kudeta segera mengambil tindakan dan inisiatif untuk menahan laju pergerakan tersebut sejak awal dan tidak akan mau mengalah sama sekali.

Oleh karena itu, para penjajah negeri atau para pelaku kudeta berpacu dengan waktu untuk menyerang habis-habisan kekuatan revolusioner. Bahkan semenjak awal sudah berupaya melumpuhkan benih-benihnya. Semua upaya dikerahkan, mulai dari menindak secara brutal, memberikan teror sampai memunculkan isu terorisme.

Dengan demikian, wajib bagi kita meningkatkan aksi-aksi untuk melawan tirani kudeta ini dan menyelamatkan Mesir dari kebusukan-kebusukan yang mereka sembunyikan dalam hati mereka.


Oleh: Sari Orabi Khalil Taha (Penulis dan analis dunia pemikiran Islam Palestina)
Alih bahasa: Rendiyan S.

Sisi Nyapres, Ini Tanggapan Putra Mursi

Written By Salman Arif on Kamis, 27 Maret 2014 | 00.52

SINAIOnline- Putra Presiden Mesir Muhammad Mursi, Osama mengungkapkan bahwa pengumuman Menteri Pertahanan Mesir, Abdel Fattah al-Sisi untuk mencalonkan diri sebagai presiden semakin memperjelas bahwa tujuan kudeta militer adalah untuk mengambil alih tampuk kekuasaan.

Kepada Anadolu Agency Osama mengatakan, "Sekarang sudah sangat jelas bahwa tujuan para pemimpin kudeta militer itu adalah pembagian kekuasaan diantara mereka. Namun, ingatlah bahwa Mesir lebih besar dan lebih mulia dari kudeta dan keserakahan kekuasaan ini. Serta harapan dan keinginan rakyat Mesir akan menang dengan cara yang damai."

Dia menegaskankan bahwa Presiden Mesir tetaplah Muhammad Mursi sampai habis masa jabatannya sesuai dengan aturan demokrasi dan menolak kudeta militer serta terus-menerus akan berjuang sampai pemimpin kudeta itu diadili. Dia juga menambahkan bahwa kebebasan dan demokrasi Mesir akan kembali.

Dalam kesempatan lain, wakil ketua Ikatan Ulama Islam Dunia, Dr. Ali Alqaradaghi  mengungkapkan bahwa Sisi berbicara tentang amanah setelah ia mengkhianati sumpah setianya kepada Presiden Mursi serta mengkhianati rakyat yang telah memilih anggota DPR yang dibubarkan oleh kudeta.

Bahkan Alaa Abu al-Nasr, ketua Partai Pembangunan dan Pengembangan (sayap politik Jamaah Islamiyah) dan juga merupakan salah satu pimpinan Aliansi Nasional Pro Legitimasi memperingatkan Jenderal Sisi bahwa pengunduran dirinya dari jabatan tersebut tidak akan membebaskan tanggung jawabnya terhadap tumpahan darah rakyat Mesir pasca penggulingan Presiden Mursi 3 Juli tahun lalu.

Senada dengan hal itu, Imam Yusuf, salah seorang anggota badan tertinggi Partai Ashalah, yang juga termasuk pemimpin Aliansi Nasional menyatakan bahwa apa yang terjadi di Mesir adalah kudeta militer. Dan pengunduran Sisi ini termasuk dalam rencana substantif lanjutan untuk menghapus legitimasi konstitusional yang dimulai dari penggulingan Mursi, membentuk panitia 50 (pengganti MPR untuk menetapkan UU), serta membunuh, melukai dan menangkap ribuan orang. 

Redaktur: Rendiyan S.
Sumber: islammemo

Event

Potret

Potret
 
Office SINAI Mesir: ...Cairo
Copyright © 2011. Jhony Storage Redesign:Studi Informasi Alam Islami - All Rights Reserved
Redaksi SINAI Online
Email: sinaikita@gmail.com