Studi Informasi Alam Islami
Terbaru :
Diberdayakan oleh Blogger.

Posting Terbaru

Mengenang Kembali Sabra-Satila

Written By Harun AR on Rabu, 17 September 2014 | 03.30

SINAIOnline- Hari ini kita kembali diingatkan dengan kisah kelam yang pernah terjadi di bumi Palestina. Sebuah aksi pembantaian yang sangat kejam oleh tentara zionis Israel terhadap rakyat Palestina yang dikenal dengan pembantaian Sabra Satila yang berlangsung 16 September 1982. Ketika itu, tentara ‘Israel’ yang dipimpin Menteri Pertahanan ‘Israel’, Ariel Sharon, mengepung Sabra dan Shatila lalu membiarkan para milisi Kristen Maronit Libanon yang dipimpin Kaum Falangis membantai pengungsi di dalamnya.

Pembantaian tersebut berlangsung selama tiga hari (16-18 September 1982). Sekitar 3.500-8.000 orang, termasuk anak-anak, bayi, wanita, dan orangtua dibantai dan dibunuh secara mengerikan. Tentara ‘Israel’ yang dipimpin oleh Ariel Sharon dan kepala stafnya, Rafael Etan, memastikan pasukan mereka mengepung kamp pengungsi lalu mengizinkan Kaum Falangis menyerang dan membunuh ribuan pengungsi yang tidak bersalah.

Sabra adalah sebuah pemukiman miskin di pinggiran selatan Beirut Barat, Libanon, yang bersebelahan dengan kamp pengungsi UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) Shatila yang dibangun untuk para pengungsi Palestina pada 1949. Selama bertahun-tahun penduduk dari kedua wilayah ini menjadi semakin bercampur, sehingga biasa disebut “Kamp Sabra-Shatila”.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menggunakan Libanon selatan sebagai pangkalan penyerangan mereka atas ‘Israel’, sehingga tentara ‘Israel’ mengklaim bahwa pembantaian itu untuk mencari 1.500 personil PLO yang menurut mereka berada di kamp Sabra-Shatila. Padahal sesungguhnya kelompok PLO sedang berada di tempat lain, skenario pencarian anggota PLO hanyalah karangan ‘Israel’. Kelompok PLO sedang melawan serangan ‘Israel’ di area lain, sehingga sebagian besar yang berada di kamp pengungsian saat pembantaian terjadi adalah perempuan tua dan anak-anak.

Setelah pembantaian tersebut, Mahkamah Agung ‘Israel’ membentuk Komisi Cahan untuk menyelidiki kejahatan terhadap ribuan pengungsi tersebut. Pada tahun 1983, Komisi Cahan mengumumkan hasil “penyelidikan” pembantaian tersebut dan memutuskan bahwa Sharon “tidak langsung bertanggung jawab”. Maka Sharon pun melanjutkan karir politiknya, menjadi Perdana Menteri ‘Israel’ dan memegang berbagai posisi penting sampai ia menderita stroke pada 4 Januari 2006 lalu berada dalam keadaan koma sejak saat itu.

Pembantaian Sabra-Shatila bukanlah yang pertama atau terakhir dilakukan tentara ‘Israel’. Pasukan Zionis melakukan banyak pembantaian terhadap rakyat Palestina di tempat-tempat berbeda, di antaranya Jalur Gaza, Deir Yassin, Qibya, Tantour, Jenin, Al-Quds, Hebron, dan lainnya. Hingga kini tidak pernah ada satu pun komandan atau tentara ‘Israel’ yang secara resmi bertanggung jawab atas kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat Palestina.

Sabra dan Satila juga bukan satu-satunya aksi biadab yang menumpahkan darah rakyat Palestina. Sederet aksi kejahatan yang dilakukan oleh zionis terhadap rakyat Gaza menjadi saksi yang tak terbantahkan akan kebiadaban bangsa Israel. Pertanyaannya adalah sampai kapan bangsa Palestina harus mengalami penderitaan dan ketidakadilan ini, sampai kapan dunia Arab bungkam dan memilih menonton pembantaian atas rakyat Palestina dari kursi empuk dan istana mewah mereka. (knrp/sinai)

 Redaktur: Harun AR
Sumber: knrp/hidayatullah

Zionis Mengaku Salah Memprediksi Kekuatan Hamas

Written By Harun AR on Kamis, 04 September 2014 | 00.31

SINAIOnline- Komandan Senior di Badan Intelijen Militer Zionis mengatakan bahwa militer Zionis telah salah dalam menilai kemampuan gerakan Hamas dan organisasi-organisasi lainnya untuk terus bertempur selama agresi militer terakhir di Jalur Gaza.
 
Seperti dikutip radio Zionis, komandan senior yang tidak disebutkan identitasnya ini mengatakan, “Sebagian orang-orang bersenjata Hamas mendapatkan latihan militer baru di luar Jalur Gaza.” Secara khusus dia mengisyaratkan kepada orang-orang bersenjata Hamas yang melakukan aksi pada 9 Juli lalu ke pangkalan militer Zionis di Zakim, selatan
Ashkelon, melalui penyusupan lewa laut.

Kala itu media massa Zionis mengatakan bahwa sel perlawanan dari Jalur Gaza menyusup ke pantai Ashkelon melalui jalan laut. Media Zionis mengklaim, pergerakan mereka sempat terpantau melalui sistem perangkat khusus yang ada di bawah air milik Angkalan Laut Zionis, sebelum mereka melewati perbatasan.

Namun gambar-bambar yang muncul langsung pasca aksi tersebut menunjukkan bahwa para pejuang al Qassam bisa mencapai pangkalan militer Zionis dengan mudah tanpa rintangan apapun. Sementara itu Brigade al Qassam menegaskan terus berhubungan langsung dengan komandan aksi yang menjelaskan bahwa mereka menyerbu pangkalan militer Zionis dan membunuh sejumlah serdadu di dalamnya.

“Israel” telah mengakui sebanyak 67 serdadu dan 4 pemukim Zionis serta seorang pekerja asing tewas selama agresi Zionis ke Jalur Gaza. Sementara itu dua pusat medis non pemerintah, Soroka dan Barzilai, kedua institusi medis ini mengatakan bahwa 1522 orang Zionis, 740 di antara serdadu mendapatkan perawatan di kedua pusat medis tersebut selama masa perang.(infopalestina/sinai)
 
Redaktur: Harun AR

Tentara Israel Rudal Ambulan dan Reporter di Syujaeyyah

Written By Salman Arif on Jumat, 01 Agustus 2014 | 12.34

Illustrasi
SINAIOnline- Kamera salah seorang wartawan berhasil merekam detik-detik mengerikan yang dialami para petugas medis dan wartawan kemarin Rabu (30/7/2014), saat mereka memasuki pasar kawasan Shujaeyyah di Jalur Gaza.

Rekaman tersebut memperliahtkan saat-saat kedatangan mobil ambulan di lokasi pembantaian Israel di Syujaeyyah. Namun belum sampai tim medis keluar dari ambulan untuk menyelamatkan para korban, mereka dikagetkan dengan sebuah ledakkan dahsyat.

Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, ledakan kedua kembali mengguncang. Dilanjutkan dengan ledakan ketiga dari serangan rudal yang sengaja diluncurkan oleh tentara israel.

Lokasi kejadian pun berubah seperti medan pertempuran dimana semuanya porak-poranda, mayat-mayat bergelimpangan, dan para korban luka pun banyak terlihat. Dan hanya selang beberapa saat, ledakan keempat kembali terdengar dan kemudian kamera merekam kobaran api dan asap yang menggumpal di dekat sebuah ambulan. (ajr/sinai)

Redaksi: Fahmi Idris
Sumber: Aljazeera

Agresi Gaza, Erdogan: Keadilan Dunia Internasional Telah Mati

Written By Redaksi Sinai on Rabu, 16 Juli 2014 | 00.37

PM Turki, Erdogan
SINAIOnline-Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdoganmempertanyakan kebisuan masyarakat Internasional terkait agresi brutal Israel terhadap Jalur Gaza. Erdogan mengatakan, "Sampai kapan kalian akan terus berdiam diri terhadap kezaliman yang menimpa anak-anak Gaza? Sampai kapan dunia akan berdiri membisu menyaksikan kekerasan dan kekejaman terhadap warga Palestina? Bukan hanya anak-anak yang meninggal di Palestina, akan tetapi keadilan internasional juga telah mati." Hal ini ia sampaikan kemarin (15/7) dalam pidatonya di hadapan blok parlemen AKP di Ankara.
Erdogan telah melakukan kontak dengan para pemimpin Palestina; Khaled Meshaal dan Mahmoud Abbas. Begitu juga Sekjen PBB Ban Ki-moon; Presiden Perancis Francois Hollande; Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani; dan Presiden Iran Hassan Rohani, guna menegaskan sikap Turki mengenai krisis yang sedang terjadi dan mencari solusi bersama untuk keluar dari krisis tersebut. Begitu juga Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davut Oglo yang terus melakukan kontak khusus terkait permasalahan ini.
Erdogan menambahkan, "Seluruh bangsa dan pemerintahan haruslah menentang penindasan yang terjadi di Gaza. Dan kepada masyrakat Israel, agar melihat tidak adanya alasan yang realistis untuk terus membombardir Gaza. Terlebih lagi, rudal yang diluncurkan oleh Hamas tidaklah menyebabkan kematian seorangpun dari israel. Sedangkan di lain pihak, Israel sejauh ini telah menewaskan lebih dari 200 warga Palestina, dan melukai lebih dari1000 orang lainnya, serta telah menghujani kota Gaza dengan 400 Ton bahan peledak, hingga rata dengan tanah." (pls48/sinaimesir)
Redaksi: Abdurrahman Al Muhasibi
Editor: Fahmi Idris
  

Rahasia Awan Hitam di Langit Gaza

Written By Redaksi Sinai on Senin, 14 Juli 2014 | 06.05

ilustrasi
SINAIOnline-Senin pagi (14/7), penduduk Gaza dikejutkan dengan fenomena langka di musim panas ini, yaitu adanya awan hitam yang menutupi langit jalur Gaza.

Reporter Al-Quds di Gaza melaporkan, awan yang menutupi langit Gaza itu di antaranya berbentuk gumpalan besar. Dia juga menambahkan bahwa sejak munculnya fenomena langka ini, serangan-serangan yang dilancarkan pesawat tempur Israel pun mereda.

Pakar cuaca menduga, bahwa fenomena langka ini disebabkan oleh intensitas serangan pesawat Israel selama beberapa hari ini, di mana lebih dari seribu ton bahan peledak dijatuhkan dari langit Gaza.

Perlu diketahui, sejak Selasa (8/7), Gaza dijadikan operasi besar besaran oleh militer Israel. Hingga saat ini, lebih dari  170 warga Palestina syahid, ratusan luka-luka, dan ratusan rumah hancur. (pls48/sinaimesir)

Redaksi: M. Rizki
Editor: Ibnu Ahmad

Korban Tewas Serangan Israel ke Gaza Terus Melonjak

Written By Salman Arif on Minggu, 13 Juli 2014 | 02.07

SINAIOnline- Sabtu (12/07) merupakan hari paling berdarah sejak meletusnya konflik Palestina-Israel sejak Selasa kemarin. Lima puluh dua warga Palestina dinyatakan meninggal, sehingga total jumlah korban tewas mencapai 154 jiwa. Dalam kejadian ini, tidak seorangpun dari pihak Israel yang menjadi korban jiwa.

Dewan keamanan PBB sepakat untuk mendesak Israel dan Hamas agar menghormati “Hukum Kemanusiaan Internasional” dan menghentikan pertumpahan darah. Lima belas anggota dewan mendesak agar kedua belah pihak kembali pada restitusi gencatan senjata November 2012. Hal ini mengacu pada konflik dengan skala yang sangat mematikan di Gaza yang terjadi  akhir-akhir ini.

Pada Jum’at lalu, PBB mengatakan 77% dari mereka yang tewas dalam serangan Israel adalah warga sipil. Salah seorang reporter Aljazeera melaporkan dari Rumah Sakit Al-Sifa di kota Gaza, bahwa fasilitas medis di wilayah itu sangat kewalahan. “Sebagian besar korban yang kita lihat di sini adalah warga sipil, dan ini sangat mengerikan,” katanya. Orang-orang benar-benar ketakutan, rumah sakit mengalami masalah dengan kurangnya fasilitas untuk menampung korban yang terus berdatangan.

Kedua belah pihak menolak untuk melakukan gencatan senjata. Israel terus menyusun pasukan di sepanjang perbatasan Gaza menjelang kemungkinan dilakukannya serangan darat. Warga Palestina di bagian utara Gaza diseru untuk mengevakuasi rumah mereka.

Serangan udara pada Sabtu (12/07) merupakan kampanye udara terbesar dan paling mematikan sejak 2012, tercatat bahwa serangan ini juga memakan korban dua orang keponakan perdana menteri Palestina, Ismail Haniya.
Pada Sabtu malam kemarin, serangan Israel menghantam distrik Tuffah di bagian timur kota Gaza, menargetkan rumah serta sebuah masjid dan mengakibatkan setidaknya 16 warga meninggal. Di antaranya adalah kepala polisi Tayseer al-Batsh yang juga terluka.

Hamas juga menembakkan roket setelah mengeluarkan peringatan bahwa pihaknya merencanakan untuk menembak kota Tel Aviv. Tiga roket tampaknya menargetkan Yerusalem, Hebron, dan Bethlehem. Tentara Israel dan sumber-sumber keamanan Palestina mengatakan tidak ada laporan tentang korban jiwa dari pihak Israel. Setidaknya, lebih dari 500 proyektil telah menyerang Israel selama konflik, tetapi tidak ada yang mengakibatkan kematian dari pihak Israel.

Amar Aziz
Sumber: Al-Jazeera

Komunitas Muslim Rohingya Rilis Simbol Tauhid (Satu Jari)

Written By Salman Arif on Kamis, 05 Juni 2014 | 04.45

SINAIOnline- Kalau bangsa Palestina tiap tahunnya pada tanggal 15 Mei memperingati Hari Nakbah "Hari Pengusiran atau kehancuran" sebagai hari pengusiran Bangsa Palestina yang mendorong terbentuknya Negara Israel pada tahun 1948, Maka Komunitas Muslim Rohingya pun tiap tahunnya, pada tanggal 10 Juni memiliki hari Nakbah memperingati penderitaan Bangsa Muslim Rohingya atas penindasan dan kedzaliman yang dilakukan oleh Kelompok militan Budha di Myanmar yang didukung oleh pemerintah Myanmar.
Untuk menyambut hari Nakbah tersebut, komunitas Rohingya melalui Media Center Arakan (ARAKANNA), organisasi yang berada di bawah organisasi induk GRC (Global Rohingya Center) yang berpusat di New york dan dibentuk oleh OIC (Organisasi Kerjasama Islam) merilis  simbol Tauhid Satu Jari, sebagai simbol perjuangan Muslim Rohingya mempertahankan agama dan akidahnya menghadapi junta militer Myanmar, layaknya simbol R4BIA yang telah menggema seantero dunia sebagai simbol perjuangan bangsa Mesir menghadapi junta militer.
Simbol Satu Jari ini, menurut Abu Turki di Riyadh (4/6), Direktur Kantor Berita Arakan kepada redaksi Islamicgeo.com adalah simbol yang dirilis untuk memperingati Nakbah Kedua Muslim Rohingya, Abu Turki yang akan diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Juni dan telah ditetapkan oleh Organisasi Induk Komunitas ROhingya ARU (Arakan Rohinya Union) dan Global Rohingya Center.

Masih menurut Abu Turki, jari telunjuk kanan yang terangkat adalah simbol Tauhid dan keteguhan bangsa Rohingya membela dan mempertahankan agamanya, sementara tangan kiri yang memegang erat tangan kanan adalah simbol permasalahan Muslim Rohingya yang membutuhkan sokongan, bantuan dan dukungan dari para pejuang kebebasan di seluruh dunia, lambang ini juga mengisyaratkan tekanan orang-orang Budha yang mencekik orang-orang Rohingya.
Simbol perjuangan Tauhid ini pun mendapat sambutan luas dari komunitas Muslim Rohingya di berbagai belahan dunia. (islamicgeo/sinai)

Event

Potret

Potret
 
Office SINAI Mesir: ...Cairo
Copyright © 2011. Jhony Storage Redesign:Studi Informasi Alam Islami - All Rights Reserved
Redaksi SINAI Online
Email: sinaikita@gmail.com